Showing posts with label Artikel Bab 5. Show all posts
Showing posts with label Artikel Bab 5. Show all posts

Thursday, October 25, 2012

Alfamart Bakal Akuisisi Alfamidi?

Minimarket milik Alfamart dan Indomaret
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfa) berambisi memperluas pasarnya di industri minimarket Tanah Air. Pemilik jaringan Alfamart ini berencana mengakuisisi PT Midi Utama Indonesia Tbk. Midi Utama (MIDI) sendiri adalah pengelola jaringan minimarket Alfamidi, Alfa Express, dan Lawson. Saat ini, Alfaria mengempit 12,75 persen saham MIDI.
Alfaria sudah mengajukan permohonan konsultasi atas rencana akuisisi Midi Utama kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada 18 September 2012.

Senin (22/10/2012) kemarin, wasit persaingan usaha itu memberikan lampu hijau. Juru Bicara KPPU Ahmad Junaidi menyebut, rencana akuisisi Midi Utama oleh Sumber Alfaria bukan subyek hukum yang wajib notifikasi ke KPPU. Menurut Junaidi, dari sisi jumlah aset dan omzet hasil, penggabungan kedua perusahaan itu memang memenuhi ketentuan untuk wajib lapor, yakni beraset gabungan minimal Rp 2,5 triliun dan beromzet minimal Rp 5 triliun. "Tetapi, karena keduanya perusahaan terafiliasi, di bawah satu pengendalian, maka terlepas dari kewajiban itu,” ungkapnya, Selasa (23/10). Dalam dokumen yang diserahkan ke KPPU, Alfa menyebut, total aset gabungan setelah akuisisi mencapai Rp 6,29 triliun, mengacu data tahun lalu. Sementara total omzet sebesar Rp 20,8 triliun.

Sejauh ini masih belum jelas betul berapa jumlah saham Midi Utama yang bakal Sumber Alfaria caplok. Termasuk pemilik saham yang bakal terkena proses akuisisi ini.
Bisa jadi Alfa bakal mengambil alih sisa 71,82 persen saham yang saat ini masih dipegang perusahaan lain, minus 15,43 persen saham milik publik. Sayang, tak satu pun manajemen Alfaria yang bersedia berkomentar soal rencana akuisisi ini. Wakil Presiden Direktur Sumber Alfaria Trijaya Pudjianto mengaku tidak tahu-menahu tentang akuisisi.  "Kalau soal aksi korporasi begitu, saya tidak tahu. Tanyakan langsung kepada pemilik kami, Djoko Susanto," elaknya kepada KONTAN, Selasa (23/10). Djoko Susanto sendiri tidak menggubris panggilan dan pesan singkat dari KONTAN. Malah, Feny Djoko Susanto, anak Djoko Susanto sekaligus Presiden Direktur Sumber Alfaria Trijaya juga tidak mau berkomentar. "Saya no comment, lah," katanya.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menilai rencana akusisi tidak ada hubungannya dengan aturan waralaba yang bakal membatasi gerai pewaralaba, termasuk milik Sumber Alfaria. Kementerian Perdagangan lewat aturan waralaba memang membatasi gerai milik sendiri paling banter 150 gerai ditambah 60 persen dari sisa gerai yang ada. Adapun sisanya wajib diwaralabakan. "Ini strategi bisnis supaya lebih efisien daripada mengurus dua merek," katanya.
Justru dengan proses akuisisi ini, menurutnya, Sumber Alfaria bakal bisa memperbesar pasar ritel modern terutama minimarket. Apalagi minimarket Alfamart yang dikelola Alfaria punya saingan berat dari Indomaret yang dikelola Indomarco Prismatama. Selan itu, langkah akuisisi ini diprediksi untuk mempercepat laju bisnis Midi Utama, terutama perkembangan convenience store Lawson.

Menurut sumber KONTAN, semenjak ada investor Jepang di tubuh Midi Utama, yakni Lawson Asia Pacific Holdings Ltd, perkembangan gerai Lawson seolah kalah cepat dengan sang pesaing, yakni 7 Eleven. "Pak Djoko ingin berlari 100 km, tapi Lawson maunya 40 km," ucapnya. (Dupla Kartini, Markus Sumartomdjon, Adisti Dini Indreswari, Narita Indrastiti/Kontan)


Sumber :
KONTAN
Editor :
Erlangga Djumena

Source: kompas.com

Saturday, October 20, 2012

Toni Jack's Menjelma Jadi Jack Star

Tony Jack's Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai pengelola resto waralaba cepat saji Toni Jack's di Solo Jawa Tengah, PT Duta Mitra Propertindo (DMP) tak rela restonya itu mati begitu saja, seperti resto Toni Jack's yang lain. Itu sebabnya, DMP akan menghidupkan restoran cepat saji itu namun dengan nama baru: Jack Star. Sebagai pengingat, pada akhir tahun 2009, di Tanah Air hadir 13 resto Toni Jack's milik pengusaha Bambang Rahmadi dan satu gerai waralaba Toni Jack's yang dikelola DMP di Solo, Jawa Tengah. Gerai di Solo itu tepatnya berada di lokasi pusat belanja Center Point Solo (CPS) di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Gerai inilah yang menjelma menjadi Jack Star. Pemegang saham mayoritas DMP adalah Lukminto, pemilik perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Menurut Humas Jack Star, Rahmat Agung Nugroho, brand Jack Star sudah didaftarkan ke Kementerian Perdagangan (Kemdag) dan sudah dipatenkan. "Jadi sudah tak ada hubungan lagi dengan Bambang Rahmadi," jelas Rahmat kepada KONTAN, Jumat (31/8/2012).

Setelah gerai Jack Star perdana berjalan, DMP akan mengembangkan 100 gerai sesuai dengan aturan waralaba yang baru saja dikeluarkan Kemdag. Dalam beleid itu, pewaralaba hanya boleh mengembangkan 100 gerai, selebihnya diberikan kepada mitra lokal. "Tapi tahun ini kami baru buka di dua kota dulu, di Yogyakarta dan Purwokerto," ujar dia. Rahmat mengklaim, saat ini omzet gerai Jack Star bisa mencapai Rp 50 juta per hari. Hal ini lantaran Jack Star telah mengadopsi konsep makanan cepat saji plus fine dining restoran. DMP mengambil konsep ini karena gerai Jack Star di Solo diminati kalangan muda dan orang tua.

Tahun depan mulai waralaba
Dia mengatakan, Jack Star siap bersaing dengan restoran cepat saji lain yang sudah lama ada. Untuk itu, perusahaan siap mewaralabakan Jack Star tahun depan nanti. "Kami menawarkan waralaba dengan investasi Rp 500 juta-Rp 1 miliar," katanya. Rahmat menjamin, terwaralaba resto ini tak bakal bernasib seperti Toni Jack's karena DMP akan memenuhi semua yang telah diperjanjikan dengan terwaralaba siap bersaing dengan restoran cepat saji lain yang sudah lama ada. Untuk itu, perusahaan siap mewaralabakan Jack Star tahun depan nanti. "Pak Lukminto ingin Jack Star menjadi pemimpin waralaba di Indonesia yang bisa menjadi ikon kebanggaan di Indonesia," ujar dia. Rahmat menyatakan, optimisme ini tak berlebihan. Sebagai bukti, sebagian besar karyawan yang nanti direkrut untuk mengembangkan Jack Star adalah mantan karyawan McDonald's. Mereka saat itu dibawa Bambang Rahmadi untuk mengelola Toni Jacks, pasca peralihan pemegang waralaba McDonald's dari Bambang Rahmadi ke Grup Rekso. Namun setelah 13 gerai Toni Jacks tutup, sebagian besar karyawan tersebut menganggur. "Saat ini kami sedang menata manajemen. Salah satunya akan merekrut kembali mereka yang dipecat dari McD dulu," ujar dia.
Selain di bisnis makanan, Sritex juga menyiapkan sejumlah agenda ekspansi besar lain. Kabarnya, perusahaan ini menyiapkan anggaran  6 miliar dollar AS untuk membangun pabrik tekstil baru dan pabrik semen berkapasitas 4 juta ton setahun di Wonogiri. (Azis Husaini/Kontan)

Sumber :
KONTAN
Editor :
Erlangga Djumena

Source: kompas.com

Inilah Raksasa Baru Petrokimia RI

Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Tri Polyta Indonesia Tbk menyatakan akan merger dengan PT Chandra Asri membentuk perusahaan petrokimia terintegrasi yang efisien dan saling menguntungkan. Merger ini membentuk satu perusahaan petrokimia baru terbesar di Indonesia dan berskala global. Direktur Tri Polyta Suryandi, Minggu (26/9/2010) di Jakarta, mengatakan, manajemen Tri Polyta akan menyerahkan pernyataan pendaftaran dan rancangan merger dengan PT Chandra Asri kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan serta kreditor perseroan, Senin ini. Pada hari itu juga, perseroan akan mengumumkan rencana rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan kepada pemegang saham dan publik.

Aksi korporasi penggabungan kedua perusahaan yang bergerak di sektor petrokimia tersebut akan dilakukan melalui RUPSLB yang dijadwalkan 27 Oktober 2010. Diharapkan, perusahaan baru dengan nama PT Chandra Asri Petrochemical Tbk sudah efektif pada 1 Januari 2011. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, kata Suryandi, selanjutnya akan menjadi sebuah perusahaan petrokimia yang terintegrasi dengan kegiatan usaha yang mencakup hampir semua aspek rantai produksi petrokimia dan menghasilkan beberapa produk untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat luas. Gabungan kedua perusahaan tersebut juga akan membuat perusahaan baru yang lebih efisien dan menguntungkan bagi perusahaan, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Suryandi, merger Tri Polyta dengan PT Chandra Asri merupakan merger vertikal antaranak perusahaan PT Barito Pacific Tbk. Menurut dia, tidak akan ada benturan kepentingan, mengingat merger yang dilakukan terbatas pada pertukaran saham (share swap) antarkedua perusahaan. ”Merger ini akan memberikan sinergi yang menguntungkan bagi kedua perusahaan. Sebab, selama ini kebutuhan bahan baku kami dipenuhi oleh PT Chandra Asri,” kata Suryandi. Beberapa manfaat yang dihasilkan dari penggabungan Chandra Asri dan Tri Polyta di antaranya akan membuat aktivitas produksi lebih efisien sehingga akan memberikan keuntungan strategis jangka panjang dari sisi operasional dan logistik.
Dengan menjadi perusahaan petrokimia yang terintegrasi, perusahaan yang baru akan memiliki kemampuan pendanaan yang lebih besar dan menciptakan peluang bisnis lebih baik sehingga dapat meningkatkan kinerja perseroan.

Menurut Sekretaris Perusahaan Chandra Asri Suhat Miyarso, keputusan merger dilakukan setelah melalui proses uji tuntas (due dilligence) ketat sejak Juli 2010. Proses tersebut dilakukan dengan memerhatikan masukan untuk menciptakan keuntungan bagi semua pemegang saham dan pemangku kepentingan perseroan. ”Proses merger ini juga telah memerhatikan beberapa aspek, seperti kepentingan karyawan, kreditor, pemegang saham, dan stakeholder lainnya dari kedua perusahaan,” ujar Suhat menegaskan.

Tri Polyta yang berdiri tahun 1988 dan beroperasi komersial sejak tahun 1992 merupakan perusahaan yang memproduksi bijih plastik polypropylene dengan kapasitas produksi saat ini 360 kiloton per annum. Polypropylene adalah bahan baku untuk beberapa produk konsumen, seperti kemasan makanan, perabot rumah tangga, komponen otomotif, dan peralatan elektronik. PT Barito Pacific Tbk pada 5 Agustus 2008 menguasai 77,93 persen saham Tri Polyta. Dengan pangsa pasar sebesar 46 persen, total aset Tri Polyta saat ini 280 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,5 triliun.(REI)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Erlangga Djumena

Source: kompas.com